Integrasi Sistem: Investasi atau Biaya? Perspektif Bisnis yang Perlu Dipahami

Integrasi Sistem Perusahaan
Ilustrasi Integrasi Sistem Perusahaan

Perusahaan yang sedang berkembang biasanya menambah teknologi secara bertahap. ERP digunakan untuk keuangan dan operasional, CRM untuk mengelola pelanggan, sistem pembayaran untuk transaksi, aplikasi untuk layanan pelanggan, sementara perangkat di lapangan menangkap data operasional secara langsung.

Masing-masing sistem dapat bekerja dengan baik ketika berdiri sendiri. Persoalannya muncul ketika data dan proses bisnis harus berpindah dari satu sistem ke sistem lainnya.

Tim finance mungkin membutuhkan data transaksi dari payment gateway. Tim operasional membutuhkan informasi kendaraan dari sistem parkir. Manajemen membutuhkan laporan yang menggabungkan data dari berbagai unit. Customer service membutuhkan status transaksi yang sama dengan yang dilihat oleh sistem keuangan.

Jika setiap sistem memiliki sumber data dan proses yang berbeda, pekerjaan yang seharusnya otomatis dapat berubah menjadi rangkaian ekspor file, input ulang, rekonsiliasi manual, dan pengecekan silang.

Di titik tersebut, perusahaan mulai menghadapi pertanyaan yang lebih strategis:

Apakah perusahaan perlu menambah sistem baru, atau justru menghubungkan sistem yang sudah dimiliki?

Jawabannya sering kali mengarah pada integrasi sistem perusahaan.

Apa Itu Integrasi Sistem Perusahaan?

Integrasi sistem perusahaan adalah proses menghubungkan dua atau lebih sistem teknologi agar dapat bertukar data, menjalankan proses secara otomatis, atau menyediakan informasi yang konsisten bagi pengguna dan aplikasi lain.

Dalam praktiknya, sistem yang diintegrasikan dapat mencakup:

  • ERP dan sistem keuangan
  • CRM dan database pelanggan
  • Payment gateway dan sistem billing
  • Sistem parkir dan payment system
  • Sistem tiket dan access control
  • Perangkat IoT dan dashboard monitoring
  • Aplikasi mobile dan backend perusahaan
  • Sistem operasional dan data warehouse
  • Sistem lama atau legacy system dengan aplikasi baru
  • Sistem internal dengan layanan dari mitra atau pihak ketiga

IBM menjelaskan enterprise integration sebagai pendekatan untuk menghubungkan aplikasi, data, layanan, dan proses melalui berbagai metode seperti API management, application integration, dan messaging. Tujuannya adalah membuat kapabilitas bisnis yang tersebar di berbagai lingkungan dapat saling terhubung dan dikelola secara lebih terstruktur.

Bagaimana Sistem yang Berbeda Bisa Saling Berkomunikasi?

Salah satu teknologi yang umum digunakan adalah Application Programming Interface (API).

Secara sederhana, API dapat berfungsi sebagai antarmuka yang memungkinkan satu aplikasi meminta atau mengirimkan data kepada aplikasi lain berdasarkan aturan yang telah ditentukan.

Contohnya:

Pelanggan melakukan pembayaran → payment gateway memproses transaksi → status pembayaran dikirim ke sistem perusahaan → invoice diperbarui → laporan keuangan ikut diperbarui.

Tanpa integrasi, sebagian proses tersebut mungkin membutuhkan pemeriksaan atau input manual.

Dengan integrasi yang dirancang dengan baik, aliran data dapat berlangsung otomatis atau hampir real-time, tergantung kebutuhan dan arsitektur sistem.

Komponen Peran dalam integrasi Contoh data
ERP Mengelola proses bisnis utama Invoice, accounting, inventory
CRM Mengelola data pelanggan Customer ID, kontak, riwayat interaksi
Payment Gateway Memproses transaksi Payment status, amount, transaction ID
API Menghubungkan aplikasi Request, response, authentication
Database Menyimpan data Master data, transaksi, log
Dashboard Menampilkan informasi Revenue, traffic, occupancy
IoT/Perangkat Lapangan Menghasilkan data operasional Sensor, kendaraan, akses, status perangkat
Middleware/iPaaS Mengelola aliran antar sistem Data transformation, routing, orchestration

Struktur seperti ini memungkinkan perusahaan mempertahankan sistem yang sudah ada sambil secara bertahap menambahkan teknologi baru.

Baca juga: Internet of Things untuk Bisnis: Cara Meningkatkan Efisiensi Operasional dengan Solusi IoT Terintegrasi

Mengapa Integrasi Digital Semakin Relevan bagi Perusahaan?

Investasi teknologi yang tidak terhubung dapat menghasilkan ekosistem digital yang terlihat modern dari luar, tetapi tetap menyimpan banyak pekerjaan manual di belakangnya.

Fenomena tersebut cukup nyata. Studi IBM terhadap 2.000 CEO global pada 2025 menemukan bahwa 50% CEO yang disurvei mengatakan percepatan investasi teknologi telah menghasilkan teknologi yang saling terputus di organisasi mereka. Dalam studi yang sama, 68% responden menyebut arsitektur data terintegrasi lintas perusahaan sebagai hal penting untuk kolaborasi antar fungsi.

Artinya, penambahan aplikasi belum tentu otomatis menghasilkan transformasi digital perusahaan.

Yang menentukan adalah bagaimana teknologi tersebut bekerja sebagai satu ekosistem.

McKinsey juga menemukan bahwa sekitar 90% perusahaan telah menjalankan suatu bentuk transformasi digital, tetapi rata-rata organisasi hanya menangkap sekitar sepertiga dari manfaat pendapatan yang mereka harapkan. Salah satu faktor yang membedakan organisasi yang berhasil menangkap nilai lebih besar adalah kemampuan mengintegrasikan teknologi secara lebih mendalam ke dalam proses bisnis.

Hal ini menjelaskan mengapa integrasi sistem sebaiknya dibahas bersama business case, bukan hanya spesifikasi teknis.

Kapan Integrasi Sistem Mulai Menjadi Kebutuhan Bisnis?

Integrasi Sistem Perusahaan
Ilustrasi Tanda-Tanda Integrasi Sistem Perusahaan Mulai Dibutuhkan

Tidak semua perusahaan membutuhkan integrasi dengan tingkat kompleksitas yang sama.

Sebuah perusahaan mungkin cukup menghubungkan CRM dengan email marketing. Perusahaan lain mungkin perlu menghubungkan ERP, payment gateway, sistem operasional, perangkat fisik, dashboard, dan beberapa mitra eksternal.

Beberapa tanda bahwa kebutuhan integrasi mulai menjadi serius antara lain:

1. Data yang sama harus dimasukkan berkali-kali

Jika satu transaksi harus dicatat oleh beberapa tim atau aplikasi secara manual, risiko human error meningkat.

2. Rekonsiliasi membutuhkan waktu terlalu lama

Tim finance atau operasional harus mencocokkan data dari beberapa sumber sebelum laporan dapat dianggap valid.

3. Manajemen tidak memperoleh data secara tepat waktu

Informasi sebenarnya sudah tersedia, tetapi tersebar di berbagai aplikasi sehingga membutuhkan proses penggabungan terlebih dahulu.

4. Sistem baru tidak dapat berkomunikasi dengan sistem lama

Legacy system masih menjalankan fungsi penting, tetapi perusahaan kesulitan menghubungkannya dengan aplikasi modern.

5. Volume transaksi terus meningkat

Proses manual yang masih dapat ditoleransi ketika transaksi berjumlah ratusan dapat menjadi hambatan ketika volume meningkat menjadi ribuan atau jutaan transaksi.

6. Perusahaan mulai memiliki banyak titik layanan

Cabang, outlet, kawasan, mesin, gate, aplikasi, atau channel pembayaran yang semakin banyak membutuhkan konsistensi data dan monitoring terpusat.

7. Perusahaan ingin melakukan otomatisasi

Otomatisasi yang efektif membutuhkan data dan sistem yang dapat berkomunikasi satu sama lain.

Dari Biaya Teknologi Menjadi Business Case

Pertanyaan “berapa biaya integrasi?” memang penting, tetapi belum cukup untuk menentukan apakah sebuah proyek layak dilakukan.

Manajemen perlu melihat hubungan antara biaya implementasi, masalah yang diselesaikan, risiko yang dikurangi, dan nilai bisnis yang dihasilkan.

Contohnya, sebuah perusahaan menghabiskan waktu ratusan jam setiap bulan untuk melakukan rekonsiliasi transaksi secara manual. Jika sistem dapat mengotomatisasi proses tersebut, manfaatnya tidak hanya berupa penghematan jam kerja.

Ada kemungkinan perusahaan juga memperoleh:

  • proses closing yang lebih cepat,
  • lebih sedikit kesalahan input,
  • data transaksi yang lebih konsisten,
  • visibilitas pendapatan yang lebih baik,
  • audit trail yang lebih mudah ditelusuri,
  • kemampuan monitoring secara real-time,
  • kapasitas operasional yang lebih besar tanpa peningkatan pekerjaan manual secara proporsional.

Deloitte dalam riset 2024 terhadap hampir 400 pemimpin bisnis dan teknologi di perusahaan AS dengan pendapatan tahunan minimal US$500 juta menemukan bahwa organisasi semakin menuntut business case yang konkret dari investasi teknologi. Deloitte juga menemukan bahwa kelompok yang menggunakan lebih dari 80% KPI transformasi digital yang tersedia memiliki kemungkinan 22 poin persentase lebih tinggi untuk melaporkan bahwa mereka memperoleh nilai dari investasi tersebut dibanding kelompok dengan penggunaan KPI yang lebih rendah.

Implikasinya sederhana: integrasi sistem perlu memiliki ukuran keberhasilan yang disepakati sejak awal.

Baca juga: Mengapa Integrasi Sistem Menjadi Kunci Transformasi Digital Infrastruktur?

Apa Saja Nilai yang Bisa Dihasilkan?

Efisiensi operasional

Integrasi dapat mengurangi perpindahan data secara manual antar aplikasi dan membantu mengotomatisasi rangkaian pekerjaan yang sebelumnya membutuhkan intervensi manusia.

Data yang lebih konsisten

Ketika sistem menggunakan sumber data dan aturan pertukaran yang terstandarisasi, kemungkinan terjadinya perbedaan informasi antar departemen dapat dikurangi.

Monitoring yang lebih cepat

Data dari berbagai sistem dapat dikonsolidasikan ke dashboard sehingga manajemen memiliki visibilitas yang lebih baik terhadap kondisi operasional.

Pengendalian transaksi

Dalam lingkungan dengan volume transaksi tinggi, integrasi membantu menghubungkan aktivitas transaksi dengan sistem pencatatan, monitoring, dan pelaporan.

Skalabilitas

Arsitektur berbasis API dan integrasi modular memungkinkan perusahaan menambahkan layanan baru tanpa selalu membangun ulang seluruh sistem.

Pengalaman pelanggan

Integrasi di belakang layar dapat menghasilkan pengalaman yang lebih sederhana di sisi pengguna. Pembayaran, akses, tiket, notifikasi, atau status layanan dapat berjalan dalam satu alur yang lebih mulus.

Compliance dan audit

Data yang tercatat secara sistematis dapat membantu menyediakan jejak transaksi dan aktivitas yang lebih mudah ditelusuri. Implementasinya tetap perlu disesuaikan dengan regulasi dan kebijakan yang berlaku di sektor masing-masing.

Contoh Sederhana: Ketika Payment Terhubung dengan Sistem Operasional

Bayangkan sebuah perusahaan mengelola kawasan dengan beberapa titik transaksi.

Pengguna melakukan pembayaran melalui kanal digital. Sistem pembayaran kemudian mengirimkan status transaksi ke sistem utama. Sistem tersebut memperbarui status layanan, sementara dashboard manajemen mengambil data yang sama untuk monitoring.

Alurnya dapat digambarkan seperti:

Pengguna → Payment Channel → Payment Gateway → Integration Layer/API → Sistem Operasional → Dashboard & Reporting

Jika dibutuhkan, data juga dapat diteruskan ke ERP atau sistem keuangan.

Dalam skenario seperti ini, integrasi memiliki fungsi yang lebih luas daripada sekadar “menghubungkan aplikasi”. Ia menjadi penghubung antara aktivitas pengguna, transaksi, proses operasional, dan informasi yang dibutuhkan manajemen.

Model serupa dapat diterapkan pada:

  • Parkir gedung dan kawasan komersial
  • Fasilitas publik
  • Jalan tol
  • Terminal dan transportasi
  • Pelabuhan
  • Tempat rekreasi
  • Retail dan self-service facility
  • Sistem billing perusahaan
  • Infrastruktur dengan banyak perangkat lapangan

Pada ekosistem parkir, misalnya, sistem dapat menghubungkan gate, sensor atau ANPR, sistem tarif, payment gateway, access control, dashboard, dan reporting. Ketika seluruh komponen tersebut bertukar data dengan aturan yang jelas, pengelola dapat memperoleh gambaran operasional yang jauh lebih utuh.

Integrasi Sistem Perusahaan Tidak Selalu Berarti Mengganti Semua Teknologi

Salah satu kesalahpahaman dalam proyek transformasi digital adalah anggapan bahwa sistem lama harus diganti terlebih dahulu sebelum perusahaan dapat melakukan integrasi.

Dalam banyak kasus, pendekatan tersebut justru dapat meningkatkan risiko proyek.

API integration memungkinkan sistem lama tetap menjalankan fungsi utamanya sambil dihubungkan dengan aplikasi baru. IBM mencatat bahwa pendekatan API dapat membantu memperpanjang umur sistem tradisional dengan menghubungkannya ke workflow dan teknologi baru tanpa menunggu seluruh sistem lama dimodernisasi.

Karena itu, perusahaan dapat mempertimbangkan pendekatan bertahap:

Audit sistem → tentukan prioritas → integrasikan proses kritis → ukur hasil → perluas integrasi

Pendekatan ini membuat investasi lebih mudah dikendalikan dan memungkinkan perusahaan belajar dari implementasi tahap pertama sebelum memperluas proyek.

Baca juga: Bagaimana Integrasi Sistem Parkir Meningkatkan Kontrol Operasional?

Apa yang Perlu Disiapkan Sebelum Proyek Integrasi Dimulai?

Teknologi memang penting, tetapi kualitas persiapan sering menentukan apakah integrasi dapat berjalan stabil setelah implementasi.

Setidaknya ada beberapa aspek yang perlu dipetakan:

Ilustrasi Aspek-Aspek yang Perlu Dipersiapkan Sebelum Memulai Integrasi Sistem untuk Perusahaan
Ilustrasi Aspek-Aspek yang Perlu Dipersiapkan Sebelum Memulai Integrasi Sistem untuk Perusahaan

Business process

Dokumentasikan proses yang ingin diperbaiki terlebih dahulu. Jangan memulai proyek hanya karena perusahaan ingin “mengintegrasikan sistem”.

Data

Tentukan data apa yang berpindah, dari mana sumbernya, siapa pemiliknya, bagaimana formatnya, dan seberapa sering data harus diperbarui.

API dan arsitektur

Identifikasi API yang tersedia, kebutuhan middleware, integration platform, message broker, atau mekanisme pertukaran data lainnya.

Security

Tentukan autentikasi, authorization, encryption, access control, logging, serta mekanisme monitoring yang dibutuhkan.

NIST melalui panduan Zero Trust Architecture menekankan pentingnya kontrol akses berbasis identitas dan risiko ketika organisasi menghubungkan resource yang tersebar di lingkungan on-premises, cloud, maupun pihak eksternal.

Governance

Tetapkan siapa yang bertanggung jawab terhadap data, API, perubahan sistem, incident handling, dan maintenance.

Monitoring

Integrasi yang sudah berjalan tetap perlu dipantau. API yang gagal, transaksi yang tertunda, data yang tidak sinkron, atau perangkat yang offline harus dapat diketahui dan ditangani.

Cara Menilai Apakah Investasi Integrasi Layak

Perusahaan dapat menggunakan beberapa indikator berikut sebagai baseline business case:

Area Pertanyaan yang perlu dijawab Contoh KPI
Efisiensi Berapa banyak pekerjaan manual yang dapat dikurangi? Jam kerja/proses
Akurasi Seberapa sering terjadi kesalahan input atau rekonsiliasi? Error rate
Kecepatan Seberapa cepat data tersedia setelah transaksi? Processing time
Finansial Apakah integrasi mengurangi biaya atau meningkatkan revenue? Cost saving/revenue
Operasional Apakah kapasitas transaksi dapat meningkat? Transactions/hour
Customer Experience Apakah proses pengguna menjadi lebih cepat? Processing time, complaint rate
Security Apakah akses dan aktivitas dapat dipantau? Incident rate, audit findings
Scalability Seberapa mudah sistem menambah channel atau lokasi baru? Deployment time
Management Apakah keputusan dapat dibuat dengan data yang lebih aktual? Reporting latency

Angka-angka tersebut membantu mengubah diskusi dari “berapa harga sistemnya?” menjadi “masalah bisnis apa yang diselesaikan dan bagaimana hasilnya akan diukur?”

Tantangan yang Sering Muncul dalam Integrasi

Proyek integrasi tetap memiliki risiko.

Beberapa yang perlu diperhatikan sejak tahap perencanaan:

  • Legacy system: sistem lama mungkin menggunakan teknologi atau format data yang sulit diintegrasikan.
  • Data yang tidak konsisten: perbedaan format, kode, ID, atau definisi data dapat menyebabkan hasil yang tidak akurat.
  • Ketergantungan vendor: API atau sistem tertentu dapat bergantung pada pihak ketiga.
  • Security exposure: semakin banyak koneksi yang dibuat, semakin banyak integration point yang perlu diamankan.
  • Downtime: perubahan pada sistem inti dapat memengaruhi proses operasional.
  • Scope yang terlalu luas: perusahaan mencoba mengintegrasikan terlalu banyak sistem sekaligus.
  • Kurangnya ownership: tidak jelas siapa yang bertanggung jawab setelah sistem live.
  • Maintenance: integrasi membutuhkan pemeliharaan ketika API, software, hardware, atau proses bisnis berubah.

Karena itu, keberhasilan proyek tidak hanya ditentukan oleh kemampuan membuat koneksi antarsistem. Arsitektur, dokumentasi, keamanan, monitoring, dan after-sales support juga menjadi bagian penting dari lifecycle integrasi.

Baca juga: Tantangan Integrasi Sistem Pembayaran di Infrastruktur Publik

Saatnya Melihat Integrasi sebagai Bagian dari Infrastruktur Bisnis

Teknologi perusahaan akan terus berkembang. Aplikasi baru akan muncul, kebutuhan pelanggan berubah, channel transaksi bertambah, dan sistem lama tetap harus berjalan selama masih memberikan nilai.

Kondisi tersebut membuat kemampuan menghubungkan berbagai sistem menjadi semakin penting.

Bagi perusahaan, pertanyaan yang relevan bukan hanya apakah integrasi membutuhkan biaya. Pertanyaan yang lebih berguna adalah:

Berapa besar biaya yang saat ini muncul karena sistem belum terhubung, dan berapa banyak nilai yang dapat diciptakan ketika proses tersebut terintegrasi?

Jawabannya tentu berbeda untuk setiap perusahaan. Integrasi yang tepat untuk perusahaan manufaktur belum tentu sama dengan pengelola kawasan, operator transportasi, perusahaan B2B, pengelola parkir, maupun fasilitas publik.

Yang perlu dicari adalah arsitektur yang sesuai dengan proses bisnis, volume transaksi, kebutuhan keamanan, sistem yang sudah tersedia, serta rencana pertumbuhan perusahaan.

Membangun Ekosistem Sistem yang Terintegrasi Bersama Intracs

cropped-intracs.png

PT Module Intracs Yasatama memiliki pengalaman di bidang industrial system and technology, termasuk pengembangan peralatan tol, sistem pembayaran, sensor, control system, dan solusi parkir. Portofolio Intracs mencakup lingkungan seperti jalan tol, gedung, pelabuhan, stasiun, dan bandara.

Melalui IN-Payment, Intracs menyediakan solusi yang menghubungkan kebutuhan sistem pembayaran pada jalan tol, perparkiran, tempat rekreasi, dan fasilitas publik. Sementara itu, portofolio seperti IN-Sensor, IN-Control, dan IN-Display dapat mendukung kebutuhan pengelolaan perangkat, sensor, kontrol akses, serta informasi di lingkungan operasional.

Pendekatan seperti ini relevan bagi perusahaan yang membutuhkan integrasi antara teknologi digital dan kondisi operasional di lapangan.

Jika perusahaan Anda sedang menghadapi sistem yang terpisah, proses rekonsiliasi yang panjang, kebutuhan monitoring real-time, atau rencana mengembangkan layanan digital yang membutuhkan banyak sistem untuk saling terhubung, tahap awal yang tepat adalah memetakan kebutuhan dan arsitektur integrasinya.

Diskusikan kebutuhan integrasi sistem perusahaan Anda bersama tim Intracs untuk menemukan pendekatan yang sesuai dengan proses bisnis, infrastruktur, dan target operasional perusahaan.

WhatsApp | Instagram | LinkedIn | Website

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top

IN-Control

CCTV
CCTV

Alat untuk memotret lajur gardu yang dilalui kendaraan. Setiap terjadi transaksi CCTV mengirim gambar ke Plaza CCTV Server (PCCS). Setiap terjadi deteksi CCTV mengirim gambar ke PCCS. Setiap terjadi OBS Alarm CCTV mengirim gambar ke PCCS. Terdapat fasilitas untuk mengirim gambar ke PCCS dengan periode waktu tertentu yang biasa dipilih

IN-Control

Air Navigation System Bandar Udara
Air Navigation System Bandar Udara

Air Navigation System adalah peralatan yang memberikan layanan pengaturan lalu lintas di udara terutama pesawat udara untuk mencegah antar pesawat terlalu dekat satu sama lain, mencegah tabrakan antar pesawat udara dan pesawat udara dengan rintangan yang ada di sekitarnya selama beroperasi. Mengatur kelancaran arus lalu lintas, membantu pilot dalam mengendalikan keadaan darurat, memberikan informasi yang dibutuhkan pilot (seperti informasi cuaca, informasi navigasi penerbangan.

IN-Control

Sistem Perparkiran Access Control
Sistem Perparkiran Access Control

Member Pengguna Jasa Parkir tidak perlu lagi berhenti untuk tapping ID Card saat melewati gerbang masuk area perpakiran, namun begitu tetap harus mengurangi kecepatan saat memasuki Gerbang Area Parkir yaitu adalah 20 km per jam. Setelah terjadi deduct antara OBU dengan Transceiver secara komunikasi infra red maka palang gate parkir akan terbuka maka kendaraan Pengguna Jasa Parkir dapat memasuki gerbang area perpakiran.

IN-Control

Automatic Lane Barrier
(ALB)
ALB

Automatic Lane Barrier (ALB) berfungsi sebagai penutup lajur gardu dengan memberikan penghalang fisik yang mudah terlihat oleh pengemudi kendaraan, serta sebagai perangkat law-enforcement

IN-Sensor

Sensor Automatic Vehicle
Classification (AVC)
AVC

Sensor Automatic Vehicle Classification (AVC) adalah alat bantu untuk mengidentifikasi golongan kendaraan yang melintas di ‘island’ gardu tol

IN-Sensor

Sistem Pembayaran Tol
Teknologi RFID
RFID

Sistem pembayaran tol prabayar berbasis Mobile Application dan Sticker yang menggunakan teknologi Radio Frequency Identification (RFID) dan source of fund berbasis Voucher Elektronik (VE). Teknologi ini dapat membantu kelancaran berlalu lintas di tol karena tak perlu berhenti ketika melakukan transaksi

IN-Sensor

Optical Beam Sensor (OBS)
Optical Beam Sensor (OBS)

Optical Beam Sensor (OBS) adalah alat untuk mendeteksi kendaraan saat melewati sensor yang terletak di ‘island’ gardu transaksi

IN-Display

Variable Message Sign (VMS)
Variable Message Sign (VMS)

Variable Message Sign (VMS) adalah teknologi berbasis display informasi yang berfungsi sebagai Traffic Management System dengan menampilkan info terkini terkait area jalan tol

IN-Display

Lampu Lalu Lintas Atas (LLA)
Lampu Lalu Lintas Atas (LLA)

Lampu Lalu Lintas Atas (LLA) adalah alat petunjuk gardu transaksi yang menggunakan lampu LED berukuran 5mm yang tampilannya berupa gambar panah hijau dan silang merah

IN-Display

Toll Fare Information (TFI)
Toll Fare Information (TFI)

Toll Fare Information (TFI) menampilkan informasi gerbang transaksi, golongan kendaraan, tarif, nilai sisa pada transaksi kartu E-Toll, dan status proses transaksi yang sedang dilaksanakan melalui display layar

IN-Payment

Reader

Reader adalah alat yang didesain untuk membaca kartu uang elektronik dalam proses melakukan transaksi secara digital

IN-Payment

Mobile Reader
Mobile Reader Intracs

Mobile Reader adalah alat bantu tapping transaksi pembayaran tarif tol yang berfungsi untuk mempercepat waktu transaksi pembayaran tol. Melalui alat tersebut, petugas akan menghampiri pengendara yang berada dalam antrean kendaraan di gerbang tol, sehingga dapat mengurai antrean kendaraan yang memasuki gardu

IN-Payment

GTO Multi
GTO Multi Jalan Tol Intracs

Gardu Tol Otomatis (GTO) Multi adalah Gardu Tol yang dioperasikan untuk melayani transaksi pembayaran tarif tol berdasarkan data kendaraan dari integrasi sensor, semua golongan kendaraan dan asal gerbang secara elektronik dengan kartu elektronik / E-toll

IN-Payment

GTO Single
GTO Single Jalan Tol Intracs

Gardu Tol Otomatis (GTO) Single adalah Gardu Tol yang dioperasikan untuk melayani transaksi pembayaran tarif tol berdasarkan data kendaraan dari integrasi sensor, khusus kendaraan kecil / Golongan Satu dan asal gerbang secara elektronik dengan kartu elektronik / E-toll